Habib Lutfi: “Thoriqoh bukan hanya dzikir gelang-geleng kepala”
Masih banyak masyarakat kita yang belum memahami Thoriqoh, baik yang sudah masuk dalam arti telah mengambil dari salah satu macam aliran thoriqoh terlebih yang belum. Hal itu dipahami betul Oleh Rois ‘am Idaroh Aliyah jamiyyah ahlit thoriqoh Al-Mu’tabaroh Annahdliyyah, Maulana Al-Habib Muhammad luthfi bin Yahya. Kebanyakan dari mereka memahami thoriqoh hanya sebatas dzikir dan gelang-geleng kepala tanpa memahami ma’na dan maksud dari thoriqoh. Sehingga mereka mempersepsikan thoriqoh hanya sebagai sebuah rangkaian wirid tertentu yang diterima melalui cara tertentu. Seolah toriqoh jauh dari korelasinya dengan pengamalan syari’ah terlebih korelasinya dengan aspek sosial.
Sementara sebagian memahami thoriqoh sebangun dengan tashawuf yang sebagaimana digambarkan oleh Aljunaidy maupun Albusthomy dan Al-Ghozaly. Kritik dan cemooh dari kelompok ini terhadap pengamal thoriqoh sering kali nyaring terdengar. Ini disebabkan oleh karena pemahaman mereka bahwa thoriqoh adalah tashowuf kemudian mereka kaitkan dengan kata-kata Aljunaidy: Thoriqoh kita ini hanya bisa dimasuki (baca: diikuti) oleh orang-orang yang sudah luas pemahaman agamanya (tabahhur fis syariah)Menanggapi dua pemahaman yang sama klirunya ini beliau menyampaikan: “thoriqoh adalah buah dari pada syariah, dan buah dari thoriqoh adalah tasawwuf” lebih jauh beliau menegaskan antara Syariah dan Thoriqoh tidak bisa dipisahkan. “Seorang pengamal thoriqoh harus mau ngaji tauhid sehingga tahu mana-man
a yang wajib, mustahil dan jaiz juga Safinah agar tahu tata cara wudhu sholat dsb dengan kiai di kampung, tidak harus dengan guru thoriqohnya atau yang sama macam thoriqohnya.”
Dari sisi syari’ah seperti wudhu dan mandi membersihkan tubuh sudah biasa dan rutin kita lakukan. Bagaimana dengan membersihkan hati?
padahal dari hatilah munculnya penyakit-penyakit pribadi maupun penyakit sosial seperti hasud (iri / kecemburuan) , sombong, pamrih dan lain sebagainya. Kapan kita membersihkan dari itu? kapan kita mengobati dari penyakit-penyakit tersebut?
Sudah tentu pengobatan penyakit tidak akan berhasil tanpa dimengerti akar sumbernya. Nah sumber dari penyakit-penyakit itu adalah ghoflah dari Alloh SWT. Disinilah fungsi dan peran thoriqoh. Dan ghoflah yang paling berbahaya adalah saat sakaratil maut. Karena pada saat itu kebiasaan perilaku dan ucapan akan sangat berperan, kalau biasa mengucap kalimah ????? ??? ???? maka pada saat sakarat kalimah itu akan menghiasi bibir dan hati kita. ini salah satu sasaran thoriqoh sehingga mengharuskan dzikir dalam setiap harinya agar kita tidak terus menerus ghoflah. Dengan hilangnya ghoflah maka akan hilang pula penyakit-penyakit hati dari diri kita.
Haruskah persiapan dan latihan menghadapi sekarat menunggu tabahhur? Begitu pula dengan proses belajar menepis ghoflah yang juga merupakan bagian keharusan seorang hamba sebagaimana sholat puasa dan lain sebagainya?
Pada tingkat lebih tinggi bagaimana dengan dzikir itu kita bisa meningkatkan semangat rasa penghambaan kita pada Alloh SWT. sebagai aplikasi dari maqomah muroqobah dan musyahadah sebagaimana dijabarkan dalam ilmu tasawuf. Di sinilah kita menemukan korelasi tasawuf dengan thoriqoh dimana tasawuf merupakan ending atau buah dari pada thoriqoh.
Ulasan itu disampaikan beliau pada kesempatan pengambilan baiat Thoriqoh Syadziliyah untuk yang pertama kali dilaksanakan di Pon-Pes Al-Mubarok Medono Pekalongan, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi dan Khoul mBah Kiai Abd Lathif serta sesepuh Medono Pekalongan yang dilaksnakan pada hari jumat, 24 April 2009 M. tercatat sebagai peserta baiat ± 50 orang terdiri dari alumi, wali santri dan masyarakat baik dari dalam kota maupun dari luar. Semoga Alloh membukakan jalan wushul dan ma’rifat kepadaNya. Amin (Oby Oewais)
