<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pondok Pesantren Al Mubarok</title>
	<atom:link href="http://almubarok.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://almubarok.org</link>
	<description>Pesantren Salaf di Kota Pekalongan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Mar 2010 01:57:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jadikan Pesantren Benteng Pengaruh Aliran Wahabi</title>
		<link>http://almubarok.org/jadikan-pesantren-benteng-pengaruh-aliran-wahabi/</link>
		<comments>http://almubarok.org/jadikan-pesantren-benteng-pengaruh-aliran-wahabi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 00:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AL Mubarok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubarok.org/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[senin, 15 Maret 2010
Brebes, NU Online
Pondok pesantren harus menjadi benteng masuknya berbagai aliran keagamaan baru di Indonesia, terutama aliran Wahabi yang berupaya menghilangkan ubudiyah dan tradisi keagamaan yang telah dikembangkan oleh para ulama terdahulu.
“Pesantren, harus jadi benteng terhadap berbagai aliran diluar Ahlussunah Wal Jamaah,” ujar Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Brebes H Athoillah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">senin, 15 Maret 2010<br />
Brebes, NU Online</p>
<p>Pondok pesantren harus menjadi benteng masuknya berbagai aliran keagamaan baru di Indonesia, terutama aliran Wahabi yang berupaya menghilangkan ubudiyah dan tradisi keagamaan yang telah dikembangkan oleh para ulama terdahulu.</p>
<p>“Pesantren, harus jadi benteng terhadap berbagai aliran diluar Ahlussunah Wal Jamaah,” ujar Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Brebes H Athoillah SE saat memberikan sambutan pada peletakan batu pertama pembangunan Asrama Pondok Pesantren Al Hasaniyyah Kedawon, Rengaspendawa, Larangan <span id="more-298"></span>Brebes, Ahad (14/3).</p>
<p>Makin maraknya aliran keagamaan di Indonesia, menjadi tantangan tersendiri bagi NU. Pasalnya, NU memiliki anggota terbesar sehingga menjadi sasaran empuk bagi aliran-aliran yang baru tumbuh agar masuk ke dalam komunitasnya.</p>
<p>Untuk itu, kepada seluruh warga NU (Nahdliyin) diharapkan mewaspadai derasnya aliran yang dengan terang-terangan merebut generasi NU dengan berbagai cara dan dalih.</p>
<p>Aliran baru ini biasanya masuk melalui masjid-masjid dan dan mushola yang didirikan warga setempat. Menurut dia, era sekarang Nahdliyin harus mempunyai keberanian menyatakan masjid dan mushola milik NU. “Kita yang susah-susah mendirikan, jangan mudah di ambil alih,” tuturnya.</p>
<p>Gerakan perebutan tempat ibadah oleh aliran Wahabi, terang Athoillah, dengan cara menempatkan kader-kader wahabi menjadi marbot. Mereka rela tidur dan makan di mesjid dan sekaligus mengincar menjadi imam di waktu subuh. “Saat jadi imam subuh, maka tidak diucapkannya doa qunut. Akibatnya doa qunut hilang dengan sendirinya,” ujar Athoillah.</p>
<p>“Kini ada 2000 kader wahabi sengaja disebarluaskan untuk merebut mushola dan masjid milik NU,” tandasnya. (was)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubarok.org/jadikan-pesantren-benteng-pengaruh-aliran-wahabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menag: Pesantren Benteng Pencegah Terorisme</title>
		<link>http://almubarok.org/menag-pesantren-benteng-pencegah-terorisme/</link>
		<comments>http://almubarok.org/menag-pesantren-benteng-pencegah-terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 00:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AL Mubarok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Eksternal]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubarok.org/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Ahad, 14 Maret 2010
Magelang, NU Online
Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan, berbagai pondok pesantren dan madrasah menjadi benteng yang kuat untuk mencegah terorisme.
&#8220;Kami melakukan berbagai cara termasuk pendekatan-pendekatan ke pesantren dan madrasah, agar menjadi benteng bagi tercegahnya terorisme masuk lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren,&#8221; katanya di sela perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ahad, 14 Maret 2010<br />
Magelang, NU Online</p>
<p>Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan, berbagai pondok pesantren dan madrasah menjadi benteng yang kuat untuk mencegah terorisme.<br />
&#8220;Kami melakukan berbagai cara termasuk pendekatan-pendekatan ke pesantren dan madrasah, agar menjadi benteng bagi tercegahnya terorisme masuk lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren,&#8221; katanya di sela perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Ponpes Darussalam Watucongol, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di Magelang, Ahad (14/3).<span id="more-295"></span>Ia mengatakan, berbagai upaya kemenag itu hingga saat ini sudah terlihat hasil positifnya. Jajarannya, katanya, memberikan penjelasan kepada masyarakat melalui ponpes dan madrasah itu menyangkut ajaran Islam yang benar. &#8220;Kami datang dengan menjelaskan kira-kira bagian mana yang bisa disebut sebagai ajaran Islam. Kalau perang itu dalam islam musuhnya jelas, targetnya juga jelas,&#8221; katanya.<br />
Ia menyatakan bahwa musuh dan target para pelaku teror di Indonesia tidak jelas. &#8220;Yang mati orang Islam bahkan yang mati tidak berdosa, mereka tidak berdosa,&#8221; katanya. Ia mengatakan, teroris telah merusak Islam karena Islam tidak mengajarkan terorisme. Perjuangan pemeluk Islam tidak menyandarkan kepada cara-cara kekerasan dan bahkan menimbulkan korban yang tidak berdosa.<br />
Para teroris yang mengatasnamakan Islam, katanya, sesungguhnya merugikan Islam. Ia mengaku, jaringan terorisme tersusun secara rapi dengan gerakan, pembiayaan dan target yang rapi pula sehingga aparat keamanan harus lebih intensif memberantas mereka. Ia menyatakan, terorisme sebagai gerakan kecil di Indonesia dan tidak mencerminkan Islam Indonesia. &#8220;Tetapi gerakan itu menarik perhatian sehingga menjadi besar dan seolah-olah mereka besar di Indonesia,&#8221; katanya.<br />
Pada kesempatan itu ia juga mengatakan bahwa kemenag sedang menyusun program pendidikan agama untuk para narapidana termasuk napi teroris supaya mereka kembali kepada ajaran Islam yang benar. &#8220;Kami senang sekali kalau mereka mau mendapatkan pandangan-pandangan yang lain dari pandangan yang telah mereka miliki pada saat itu,&#8221; katanya. Ia mengharapkan, pendidikan agama untuk napi bisa dilaksanakan pada Tahun 2010. Forum dialog untuk mereka, katanya, juga harus diperluas supaya mereka tidak memahami Islam hanya berasal dari satu sumber tetapi juga memahami sumber lainnya. (ant/sam)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubarok.org/menag-pesantren-benteng-pencegah-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JADWAL KEGIATAN MAULID</title>
		<link>http://almubarok.org/jadwal-maulid/</link>
		<comments>http://almubarok.org/jadwal-maulid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 05:34:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AL Mubarok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Eksternal]]></category>
		<category><![CDATA[download]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[kanzus]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<category><![CDATA[pekalongan]]></category>
		<category><![CDATA[rangkain]]></category>
		<category><![CDATA[sholawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubarok.org/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah link untuk mengunduh jadwal sementara Rangkaian Maulid Kanzus Sholawat Pekalongan
Pimpinan Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Yahya
klik gambar dibawah ini untuk mengunduh
atau disini
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini adalah link untuk mengunduh jadwal sementara Rangkaian Maulid Kanzus Sholawat Pekalongan</p>
<p>Pimpinan Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Yahya</p>
<p>klik gambar dibawah ini untuk mengunduh</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.ziddu.com/download/8863908/Jadwalsementaramaulidkanzus.doc.html"><img class="aligncenter size-medium wp-image-293" title="link gambar download ziddu jadwal copy" src="http://almubarok.org/wp-content/uploads/2010/03/link-gambar-download-ziddu-jadwal-copy-299x300.png" alt="" width="299" height="300" /></a>atau <a href="http://www.ziddu.com/download/8863908/Jadwalsementaramaulidkanzus.doc.html" target="_blank">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubarok.org/jadwal-maulid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjelang Kedatangan Habib ZAID BIN ABD ROHMAN BIN YAHYA</title>
		<link>http://almubarok.org/menjelang-kedatangan-habib-zaid-bin-abd-rohman-bin-yahya/</link>
		<comments>http://almubarok.org/menjelang-kedatangan-habib-zaid-bin-abd-rohman-bin-yahya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 04:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AL Mubarok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Eksternal]]></category>
		<category><![CDATA[Habib ZAID BIN ABD. ROHMAN BIN YAHYA]]></category>
		<category><![CDATA[tamu luar negeri]]></category>
		<category><![CDATA[ulama salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubarok.org/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas tentang beliau
Habib Zaid bin Abdur Romhan bin Husein bin Abubakar bin Umar bin abdulloh bin Umar adalah cucu dari pengarang kitab Safinatus Sholah yang disyarahi oleh Imam Nawawi menjadi Sullamul Munajah. Juga cucu dari Alhabib Abu Bakar bin Umar bin Yahya Girikan Surabaya yang terkenal dengan karomahnya yang luar biasa. Di dunia timur tengah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><em>Sekilas tentang beliau</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Habib Zaid bin Abdur Romhan bin Husein bin Abubakar bin Umar bin abdulloh bin Umar adalah cucu dari pengarang kitab <em><strong>Safinatus Sholah</strong></em> yang disyarahi oleh Imam Nawawi menjadi Sullamul Munajah. Juga cucu dari Alhabib Abu Bakar bin Umar bin Yahya Girikan Surabaya yang terkenal dengan karomahnya yang luar biasa. Di dunia timur tengah nama beliau bukanlah nama yang asing karena reputasi keilmuannya yang banyak menghiasi forum-forum dan media-media ilmiah di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau memperoleh gelar doktoral dari Aljami’ah Al-Azhar Mesir. Sehari-harinya aktif di lemabaga Darul Mushthofa, lembaga dakwah dan pendidikan dibawah asuhan Habib Umar Bin Hafidl, disamping duduk sebagai salah seorang pengajar senior juga  menjadi salah satu anggota majlis ifta’, majlis tinggi yang memiliki otoritas melakukan kajian-kajian hukum menurut syariah islam.  Di Darul Musthofa ini beliau termasuk salah satu orang penting yang sering mendapat tugas dari habib Umar untuk mewakili  dalam kegiatan-kegiatan seminar internasional di luar negeri. Seperti <span id="more-283"></span>di Mesir,  Syiria bahkan di Amerika dan Eropa.<img title="More..." src="http://almubarok.org/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />salah satu kelebihan beliau disamping keluasan ilmu dan pengetahuanya adalah kemampuanya menghafal Alqur’an hanya  dalam waktu dua bulan, Sebuah prestasi yang sepatutnya mendapatkan applus luarbiasa mengingat waktunya yang teramat singkat di tengah kesibukanya yang padat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada ahir tahun 2009 yang lalu beliau sudah pernah berkunjung  di Indonesia di kota Pekalongan. Tepatnya pada hari Jum’at kliwon,  18 Desember 2009 bertepatan tanggal 1 Muharrom 1431 H dan sempat mengisi pada pengajian kliwonan di Gedung Sholawat Pekalongan dan bersilaturohmi ke pondok-pondok pesantren serta memberi tausiyah di beberapa tempat diantaranya di ponpes Al-Mubarok Medono, Ponpes Attaufiqy wonopringgo, Al-Mabrur Warungasem, Pondok Alqur’an Proto, Ponpes Al-Amin Wirodesa dan tempat-tempat lainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dampak kunjungan itu sangat luar biasa , terutama respon dari Habib Umar yang selalu mendapat laporan detil kegiatan secara  online yang dikirimkan langsung oleh Habib Zaid. Hal ini bisa dilihat dari kesiapan Habib Zaid pada kehadiran beliau kali ini. Pendamping yang menyertai beliau – sesuai permintaan Abah untuk  diusahakan dari kaomonitas di luar jamaah- diiyakan dan langsung ditunjuk oleh Habib Umar seseorang yang memiliki kapabelitas. Habib Umar sendiri memberikan dispensasi izin pada Habib Zaid atas kealpaan beliau, yang telah ditunjuk sebagai penanggung jawab utama pada kegiatan multaqo ulama di Tarim, yang direncanakan pada bulan Robiul Tsani.</p>
<p style="text-align: justify;">kehadiran beliau kali ini merupakan permintaan dan undangan langsung dari Maulana Al-Habib sehubungan dengan kegiatan maulid yang dilaksanakan di Kanzus Sholawat dan rangkaian kegiatan setelahnya. Diharapkan pada tanggal 25 Robiul Awal atau tepatnya pada tanggal 12 Maret 2010 M diharapkan sudah berada di kota Pekalongan hingga tanggal beliau 11 April 2010 M.</p>
<p style="text-align: justify;">berikut adalah Curricullum Vitae beliau :</p>
<p style="text-align: justify;">Nama<strong> : </strong>Zeid bin Abdurrahman bin Husin bin Yahya</p>
<p style="text-align: justify;">Tempat &amp; Tanggal Lahir<strong> : </strong>Aden – Yemen 1971</p>
<p style="text-align: justify;">Status                                       <strong>: </strong>Menikah</p>
<p style="text-align: justify;">Tempat Tinggal<strong> : </strong>Tarim – Hadhramaut – Yaman</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pendidikan Akademik :</strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Menyelasaikan program sarjana dalam bidang syariat Islam di fakultas al-Azhar Mesir pada tahun 1995 / 1996.</li>
<li>Menyelesaikan pendidikan Tsanawiyah dalam bidang syariat Islam di Ma’had Shan’a al-Ilmy</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pendidikan Tradisional :</strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Menyelesaikan pendidikan di beberapa majelis Ilmu di kota Aden, khususnya dengan Syaikh Anwar Muhammad Hasan dan Sayyid Faruq al-Hanafi al-Hindi</li>
<li>Menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren al-Fateh di Baydha’</li>
<li> Menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren al-Musthafa di Syehir</li>
<li>Menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Tarim al-Ilmi</li>
<li>Menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Daarul Musthafa</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berikut adalah sebagaian nama-nama guru beliau yang termasuk ulama kondang di Negara Yaman, Hijaz, Mesir, Ordon dan Suriya :</strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>al-‘Allamah Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf</li>
<li>al-‘Allamah Mufti Ta’iz Ibrahim bin Umar bin Aqil</li>
<li>al-‘Allamah Mufti Baydha’ Muhammad bin Abdullah al-Haddar</li>
<li>al-‘Allamah al-Muhaddits Ali bin Muhammad bin Yahya</li>
<li>al-‘Allamah Abdullah bin Mahfudz al-Haddad</li>
<li>al-‘Allamah Muhammad Zaki Ibrahim</li>
<li>al-‘Allamah Abdullah Siraajuddin</li>
<li>al-‘Allamah Mufti Tarim Fadhl bin Abdurrahman Ba Fadhl</li>
<li>al-‘Allamah Umar bin Muhammad bin Hafizh</li>
<li>al-‘Allamah Muhammad bin Ali Ba ‘awdhan</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jabatan Dan Aktivitas :</strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Direktur Markaz an-Nur yang bergerak di bidang pendidikan dan penelitian</li>
<li>Pengajar (dalam beberapa macam bidang mata pelajaran) di Daarul Mushtafa</li>
<li> Pengajar (dalam mata pelajaran hadits) di Daaru Zahra</li>
<li>Berpartisipasi dalam sejumlah konferensi dan simposium ilmiah, lokakarya, dan kekayaan budaya, baik di Negara Yaman maupun Luar Yaman</li>
<li>Memiliki sejumlah program di beberapa saluran televisi dan stasiun radio</li>
<li>Memiliki Jadwal kunjungan dakwah ke beberapa Negara, seperti : Jepang, Malaysia, Indonesia, Singapore, King Saudia Arabia, Mesir, al-Jazair, Ordon, Suriya, Amman, Emirate dll</li>
<li>Editor majalah Anwar at-Talaqi</li>
<li>Pengawas pelajar di Daarul Musthafa</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubarok.org/menjelang-kedatangan-habib-zaid-bin-abd-rohman-bin-yahya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tatkala Puisi-puisi Goethe Mendarat di Pesantren</title>
		<link>http://almubarok.org/puisi-pesantren/</link>
		<comments>http://almubarok.org/puisi-pesantren/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 18:45:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AL Mubarok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lain]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubarok.org/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Magelang, NU Online
Dari tempat yang agak remang di beranda gedung itu, Najah mengacungkan tangannya, tanda dia ingin mengajukan pertanyaan kepada penyair berasal dari Jerman, Berthold Damshauser.
Dorothea Rosa Herliany, moderator &#8220;Dialog Karya-Karya Goethe: Perintis Dialog Islam-Barat&#8221; di kompleks Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu tampaknya tak melihat acungan tangan remaja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Magelang, <em><strong>NU Online</strong></em><br />
Dari tempat yang agak remang di beranda gedung itu, Najah mengacungkan tangannya, tanda dia ingin mengajukan pertanyaan kepada penyair berasal dari Jerman, Berthold Damshauser.</p>
<p>Dorothea Rosa Herliany, moderator &#8220;Dialog Karya-Karya Goethe: Perintis Dialog Islam-Barat&#8221; di kompleks Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu tampaknya tak melihat acungan tangan remaja itu.</p>
<p>Ia memberikan kesempatan kepada penanya lain yang duduk bersila di ujung karpet di halaman gedung itu. Pada sesi berikutnya kesempatan bertanya diberikan Rosa kepada Najah setelah kawan-kawan sederetnya memberitahu bahwa Najah ingin bertanya.</p>
<p>Malam itu, Berthold, atas sponsor Goethe Institut, mewartakan puisi-puisi karya pujangga besar Jerman itu ke Ponpes Tegalrejo, salah satu di antara empat tempat di Jateng, selama empat hari terakhir.<span id="more-278"></span>Tiga tempat lainnya adalah Universitas Sunan Muria Kudus, Universitas Diponegoro Semarang, dan Taman Budaya Surakarta Solo.</p>
<p>&#8220;Inspirasi apa yang membuat Goethe menghasilkan karya-karya puisinya,&#8221; tanya Najah.</p>
<p>Hingga menjelang tengah malam menuju hari &#8220;H&#8221; Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW itu Berthold ditemani Rosa yang juga penyair Magelang dan Sosiawan Leak, penyair Solo, membacakan sejumlah puisi karya Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832).</p>
<p>Berthold membacakan sejumlah puisi Goethe berbahasa Jerman sedangkan Rosa dan Leak membacakan puisi Goethe dalam terjemahan bahasa Indonesia.</p>
<p>Berthold yang juga Dosen Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman sejak Tahun 1986 itu bersama penyair Agus R. Sarjono telah menerjemahkan puisi-puisi karya Goethe dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia.</p>
<p>Puisi-puisi Goethe dalam dua bahasa itu selanjutnya oleh Penerbit Horison Jakarta diterbitkan menjadi buku Seri Keempat Puisi Jerman berjudul &#8220;Johann Wolfgang von Goethe, Satu dan Segalanya&#8221; (2007).</p>
<p>Dari panggung kecil di halaman kompleks yang berproperti lampu listrik di atas karpet, deretan puluhan lentera, tatanan indah beberapa lembar &#8220;blarak&#8221; (daun kelapa), dan kain motif batik di belakangnya itu, puisi berjudul &#8220;Raja Mambang&#8221; dibaca pertama kali oleh Leak disusul pembacaan puisi itu dengan bahasa aslinya (Jerman), &#8220;Erlkonig&#8221;, oleh Berthold yang juga dikenal dengan sebutan &#8220;Pak Trum&#8221; itu.</p>
<p>Rosa pun menyusul dengan suguhan berturut-turut tiga puisi pendek Goethe bernada cinta, &#8220;Dari Gunung Ke Laut&#8221; (Vom Berge In die See), &#8220;Dari Gunung&#8221; (Vom Berge), dan &#8220;Dendang Malam Pengembara&#8221; (Wanderers Nachtlied).</p>
<p>Ratusan mereka yang hadir seperti budayawan Ahmad Tohari (Kang Tohari), Sutanto Mendut, Romo Kirdjito, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), penyair Magelang ES Wibowo, Haris Kertarajasa, dan Gepeng Nugroho, pelukis Dedy Paw, pematung Cipto Purnomo, serta para siswa dan santri salah satu ponpes kharismatis di Jateng itu, seakan tertegun dalam kenikmatan untaian kata-kata puitis Goethe.</p>
<p>Suara bersahutan puluhan jangkrik dari tempat persembunyiannya di balik rerumputan dan lantunan bunyi beberapa ekor katak di kolam halaman kompleks itu seakan mengiringi darasan puisi-puisi Goethe.</p>
<p>Terdengar di kejauhan, sayup-sayup suara merdu tanpa pengeras suara, sekumpulan warga setempat berpadu dalam takzim lantunan ayat suci Al Qur’an pada malam menjelang Maulud Nabi itu.</p>
<p>Seorang santri mengenakan baju batik, bersarung, dan berkopiah warna hitam, berjalan maju perlahan sambil agak membungkukkan badannya sebagai tanda hormat, membawa nampan berisi beberapa gelas isi teh hangat untuk Berthold, Rosa, dan Leak yang duduk berderet di bangku panggung pendek berukuran sekitar delapan meter persegi itu.</p>
<p>&#8220;Ini puisi cinta Goethe, ketika dia jatuh cinta kepada gadis bernama Lili dan ketika dia putus cinta dengan Lili,&#8221; kata Rosa.</p>
<p>Sederet puisi lain Goethe seperti &#8220;Mukadimah Diwan&#8221; (Zum Diwan), nukilan &#8220;Kitab Parabel&#8221; (Buch Der Parabeln), &#8220;Sabda Sang Nabi&#8221; (Der Prophet Spricht), nukilan &#8220;Kitab Kedai Minuman&#8221; (Das Schenkenbuch), &#8220;Rindu Dendam&#8221; (Selige Sehnsucht), dan &#8220;Prarasa&#8221; (Vorschmack) yang disuguhkan tiga penyair dari bawah langit terang malam itu, serasa melesak relung benak, jiwa, dan raga mereka yang duduk bersila di atas karpet warna hijau itu.</p>
<p>Berthold adalah penerjemah puisi dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia dan sebaliknya. Hingga saat ini dia telah menerjemahkan ke bahasa Indonesia puisi karya Bertolt Brecht, Paul Celan, Hans Magnus Enzensberger, Rainer Maria Rilke, dan Goethe.</p>
<p>Sejumlah puisi Friedrich Nietzsche, generasi setelah Goethe, telah selesai diterjemahkannya dalam bahasa Indonesia dan rencananya terbit pada September 2010.</p>
<p>Berthold lahir di Wanne-Eickel, Jerman pada 8 Februari 1957, belajar sastra Jerman dan Indonesia di Universitas Koln Jerman dan menyelesaikan tesisnya tentang pengarang Indonesia, Trisno Sumardjo, pada 1983. Ia melanjutkan studi pascasarjana di Jurusan Sastra Indonesia dan Sastra Jawa di Universitas Indonesia Jakarta pada 1984.</p>
<p>Pada 1997, Berthold yang beristri perempuan Indonesia berasal dari Semarang itu ikut mendirikan Komisi Indonesia-Jerman untuk Bahasa dan Sastra yang diprakarsai Presiden RI dan Kanselir Jerman.</p>
<p>&#8220;Saya kenal baik dengan Pak Berthold, saya pernah menginap di rumahnya di Jerman,&#8221; kata Kang Tohari, penyair berasal dari Banyumas yang dikenal dengan novel karyanya &#8220;Ronggeng Dukuh Paruk&#8221; itu ketika sesi pembukaan pementasan puisi Goethe itu.</p>
<p>Ia, katanya, sangat paham tentang sastra Indonesia.</p>
<p>Ponpes Tegalrejo, katanya, beruntung karena kehadiran Berthold malam itu membawa karya Goethe, puisi-puisi sang pujangga besar dunia itu yang menjadi titik masuk dialog antara Islam-Barat sejak abad ke-18.</p>
<p>Berthold mengatakan, Goethe yang lahir 28 Agustus 1974 di Frankfurt Jerman mengenyam berbagai buku koleksi di rumahnya.</p>
<p>Perhatian orang tuanya yang juga ahli hukum, Johann Caspar Goethe, sedemikian besar terhadap pendidikan anaknya itu sehingga Goethe besar dalam dunia intelektual yang subur.</p>
<p>&#8220;Ia menemukan banyak buku dan informasi, kalau inspirasi, bagi saya sedikit gaib, mengarah ke wahyu. Kesenian juga puisi dari alam transendental, dan dia mengurusnya,&#8221; kata Berthold ketika menjawab pertayaan Najah.</p>
<p>Goethe adalah pujangga besar, hebat sebagai sastrawan, pelukis, budayawan, filsuf, saintis dan bahkan penemu, juga politikus dan negarawan.</p>
<p>Ia pernah menjabat sebagai perdana menteri dengan gelar &#8220;von&#8221; di negara kecil di Jerman, Weimar dan kelak menjadikan Weimar sebagai &#8220;Kota Goethe&#8221; dan pusat kebudayaan Eropa. Dan di Weimar lah dia menghembuskan akhir hayatnya.</p>
<p>Napoleon Bonaparte yang telah mengalahkan Eropa datang kepadanya pada Tahun 1808 dan meminta sang pujangga itu tinggal di Paris untuk menciptakan karya-karya drama yang menggambarkan kepahlawanannya.</p>
<p>&#8220;Tentu Goethe tidak bersedia seperti itu,&#8221; katanya.</p>
<p>Berthold mengatakan, sekitar 200 tahun lalu Goethe telah menaruh minat besar terhadap Islam melalui karya-karya sastranya dan bahkan dia tidak menolak dengan anggapan bahwa dirinya Islam karena Goethe tidak berpikir tentang hal formal.</p>
<p>&#8220;Agama Islam menurut Goethe sifatnya berserah diri kepada Tuhan,&#8221; katanya.</p>
<p>Kang Tohari malam itu mengutip pernyataan Goethe, &#8220;Kalau Islam dimaknai berserah diri kepada Tuhan, kita semua hidup dan mati dalam Islam.&#8221;Ini tataran sufi,&#8221; katanya.</p>
<p>Salah satu terjemahan kutipan puisi Goethe. &#8220;Kitab Kedai Minuman&#8221;, di halaman 109 buku Seri Keempat Puisi Jerman itu nampaknya amunisi diskusi menarik bagi Kang Tohari.</p>
<p>&#8220;Apakah Al Qur’an abadi? Itu tak kupertanyakan! Apakah Al Qur’an ciptaan? Itu tak kutahu! Bahwa ia kitab segala kitab, Sebagai muslim wajib kupercaya. Tapi, bahwa anggur sungguh abadi, Tiada lah ku sangsi; Bahwa ia dicipta sebelum malaikat, Mungkin juga bukan cuma puisi. Sang peminum, bagaimanapun juga, Memandang wajahNya lebih segar belia&#8221;.</p>
<p>Logika Goethe, katanya, anggur suatu keniscayaan yang bisa diukur oleh siapapun, tetapi Al Qur’an tidak bisa ditafsirkan secara mutlak.</p>
<p>&#8220;Adik-adik silakan membaca yang tinggi-tinggi tetapi jangan lupa mencari pendamping yang bisa menerangkan tentang apa itu abadi,&#8221; katanya.</p>
<p>Gus Yusuf yang juga salah satu pengasuh Ponpes Tegalrejo itu mengatakan, kebenaran mutlak berujung surga. Tetapi surga bukan hanya milik salah satu pihak.</p>
<p>Goethe yang sastrawan Barat, katanya, telah mendalami sufistik Islam dan meninggalkan ruang material sehingga memberikan penghargaan yang tepat dan mengagumkan kepada orang lain.</p>
<p>Sejumlah orang yang terjebak formalitas, katanya, dia seolah pemilik surga sedangkan orang lain tidak memilikinya.</p>
<p>Ia mengatakan, Berthold yang mengusung puisi-puisi Goethe malam itu sebagai pengalaman baru bagi para santri Tegalrejo.</p>
<p>Suasana yang terbangun malam menjelang Maulud Nabi itu seakan mengambarkan Tegalrejo sedang mereguk nikmatnya puisi bertema dialog Barat-Islam Goethe.</p>
<p>Sang kiai itu pun dengan nada yang terlihat santun dan rendah hati mengharapkan banyak ruang dialog di Tegalrejo.</p>
<p>Ponpes Tegalrejo didirikan pada Tahun 1944 oleh KH Chudlori (Wafat Tahun 1977), kini memiliki sekitar lima ribu santri putra dan putri berasal dari berbagai daerah. Guru bangsa dan tokoh pluralisme yang juga mantan Presiden ke-4 RI, almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1957-1959 menjadi santri di ponpes itu.</p>
<p>Ia mengatakan, Tegalrejo memang mempunyai pakem yaitu keyakinan tentang suatu kebenaran.</p>
<p>Tetapi, katanya, ponpes itu juga memberi ruang penghargaan tentang kebenaran yang dipercaya orang lain sehingga Tegalrejo ingin selalu terlibat dalam dialog kemanusiaan.</p>
<p>&#8220;Karena agama untuk mentuhankan Tuhan dan memanusiakan manusia,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia menyatakan kebanggaan Tegalrejo karena terlibat dalam dialog Islam-Barat yang dirintis Goethe sejak abad ke-18.</p>
<p>&#8220;Puisi-puisi Goethe memberikan pencerahan bagi kami untuk mengamalkan Islam yang `rahmatan lil alamin`, Islam yang mengayomi, Islam yang mengasihi sesama manusia,&#8221; kata Gus Yusuf.(ant/mad)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubarok.org/puisi-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al Habib Luthfi: &#8220;Foto KH Hasyim Asy&#8217;ari Wajib Dipasang&#8221;</title>
		<link>http://almubarok.org/al-habib-luthfi-foto-kh-hasyim-asyari-wajib-dipasang/</link>
		<comments>http://almubarok.org/al-habib-luthfi-foto-kh-hasyim-asyari-wajib-dipasang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 06:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AL Mubarok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Eksternal]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[Habib Luthfi Bin Yahya]]></category>
		<category><![CDATA[KH Hasyim Asy'ari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubarok.org/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Rais Aam Idaroh Aliyah Jam&#8217;iyyah Ahlith Thariqah Al Mu&#8217;tabarah An Nahdliyyah Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya mewajibkan warga Nahdliyyin, khususnya para pengurus NU untuk memasang foto tokoh pendiri NU dan pahlawan nasional, Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy&#8217;ari, di rumah masing-masing. Pasalnya, pemimpin tertinggi organisaasi tarekat-tarekat NU itu khawatir, saat ini para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://almubarok.org/wp-content/uploads/2010/02/KH-Hasyim-asyari.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-275" title="KH Hasyim asyari" src="http://almubarok.org/wp-content/uploads/2010/02/KH-Hasyim-asyari.jpg" alt="" width="260" height="196" /></a>Rais Aam Idaroh Aliyah Jam&#8217;iyyah Ahlith Thariqah Al Mu&#8217;tabarah An Nahdliyyah Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya mewajibkan warga Nahdliyyin, khususnya para pengurus NU untuk memasang foto tokoh pendiri NU dan pahlawan nasional, Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy&#8217;ari, di rumah masing-masing. Pasalnya, pemimpin tertinggi organisaasi tarekat-tarekat NU itu khawatir, saat ini para generasi muda NU banyak tidak tahu wajah tokoh penting di balik kebesaran Nahdlatul Ulama.</p>
<p style="text-align: justify;">Habib luthfi perihatin akan nasib NU ke depan. Tokoh NU Kota Pekalongan yang juga Ketua Umum MUI Jawa Tengah itu beberapa waktu lalu meminta para Pengurus NU Kota Pekalongan agar di masing-masing rumah warga Nahdliyyin terpasang foto Hadratus Syech KH Hasyim Asy&#8217;ari tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dan pahlawan nasional.<span id="more-274"></span>Bak gayung bersambut, gagasan Habib Luthfi disambut PCNU dengan pencanangan gerakan pemasangan foto KH Hasyim Asy&#8217;ari bersamaan dengan acara istighotsah kubro yang berlangsung Jum&#8217;at (1/2) malam ditandai dengan penyerahan foto KH Hasyim Asya&#8217;ri berukuran 40 x 50 cm dalam bingkai kaca kepada perwakilan MWC NU, Lembaga NU, Badan Otonm NU dan Ranting NU.<br />
Diharapkan seluruh rumah pengurus NU di semua tingkatan dalam bulan Pebruari ini sudah dipasangi foto KH Hasyim Asya&#8217;ri yang difasilitasi PCNU Kota Pekalongan dengan mencetak foto dalam bentuk poster.<br />
Wakil ketua PCNU Kota Pekalongan Abdul Basyir mengatakan, secara bertahap PCNU akan menerbitkan buku sejarah sepak terjang tokoh-tokoh NU khususnya yang ada di Kota Pekalongan dengan harapan agar generasi penurus yang tergabung dalam wadah IPNU dan IPPNU tidak kehilangan panutan dan jejak yang amat penting bagi perkembangan NU di Kota Pekalongan.<br />
Sementara itu tidak kurang dari sepuluh ribu warga NU Pekalongan dan sekitarnya Jum&#8217;at (1/2) malam lalu menghadiri acara istighotsah kubro yang digelar PCNU Kota Pekalongan dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-82 Nahdlatul Ulama.<br />
Acara yang digelar di Masjid Agung Al Jami&#8217; Kota Pekalongan mendapat perhatian penuh dari warga masyarakat. Pasalnya dalam acara itu dua tokoh ulama besar yakni Habib Luthfi dan Habib Abdullah Baqir bin Abdullah Alatas ikut hadir dan larut dalam gema istighotsah, sehingga jama&#8217;ah yang dengan hadir dengan busana putih putih tampak larut dalam do&#8217;a agar bangsa Indonesia lepas dari berbagai musibah.<br />
Bahkan untuk memudahkan jama&#8217;ah dapat melihat susana depan panggung, pihak panitia harus menyediakan monitor besar, sehingga jama&#8217;ah tidak perlu lagi berdesakan untuk menempati ruangan utama masjid Agung Al Jami&#8217;.<br />
Meski demikian, serambi dan halaman masjid yang cukup luas itu akhirnya tak mampu juga menampung ribuan jama&#8217;ah yang terus berdatangan hingga acara berlangsung hampir separohnya.<br />
Humas Panitia Zainal Muhibbin SPd kepada NU Online mengatakan, istighotsah kubro ini merupakan puncak acara harlah yang di gelar PCNU Kota Pekalongan sejak tanggal 10 Januari 2008 yang lalu.<br />
Beberapa kegiatan ujar Muhibbin telah dilakukan dan mendapat sambutan masyarakat yang cukup meriah, antara lain bersih-bersih masjid dan musholla NU, pengobatan gratis massal, donor darah, malam tasyakuran, ziarah makam ulama pejuang NU dan puncaknya digelar istighotsah ini.<br />
&#8220;Saya tidak menduga kalau acara yang digelar NU mendapat sambutan yang luar biasa. Hal ini dapat dilihat dari animo masyarakat di setiap acara yang digelar untuk memperingati Harlah NU,&#8221; katanya.<br />
&#8220;Tentu ini menjadi garapan NU ke depan bagaimana antusias masyarakat ini sebagai bukti bahwa mereka masih sangat mencintai NU,&#8221; ujar Muhibbin lagi.<br />
&#8220;Meski disadari bahwa kegiatan kolosal seperti pengobatan gratis, donor darah dan istighotsah kubro ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, akan tetapi kalau hal ini untuk masa depan dan kebesaran Nahdlatul Ulama, berapapun biaya yang harus dikeluarkan itu bukan masalah,&#8221; tandasnya.<br />
Walhasil, acara peringatan harlah menandai kegiatan awal pengurus NU periode 2007-2012 telah mendapat respon masyarakat dengan baik, tinggal ke depan bagaimana pengurus baru dapat merealisasikan program-programnya yang dapat menyentuh kebutuhan warga nahdliyyin khususnya dalam penanganan pendidikan, ekonomi dan kesehatan yang saat ini masih menjadi kebutuhan prioritas warga NU di Kota Pekalongan.</p>
<p>(NU Online, Abdul Muiz)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubarok.org/al-habib-luthfi-foto-kh-hasyim-asyari-wajib-dipasang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tradisi Rabu Kasan</title>
		<link>http://almubarok.org/tradisi-rabu-kasan/</link>
		<comments>http://almubarok.org/tradisi-rabu-kasan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 12:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AL Mubarok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Pengasuh]]></category>
		<category><![CDATA[do'a rabu pungkasan]]></category>
		<category><![CDATA[pungkasan]]></category>
		<category><![CDATA[rebo kasan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubarok.org/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[oleh KH. Zakaria Anshor
A. Pendahuluan
Salah satu dari tradisi yang sudah mengakar di masyarakat kita adalah rangkaian ritual yang populer dengan sebutan “ REBO KASAN “, yaitu ritual yang dilaksanakan sekali dalam satu tahun setiap hari Rabu akhir pada bulan Shofar, yaitu bulan kedua dari penanggalan Hijriyah.
Respon yang diberikan pada tradisi ini juga terdapat variasi (khilaf) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">oleh KH. Zakaria Anshor</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>A. Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu dari tradisi yang sudah mengakar di masyarakat kita adalah rangkaian ritual yang populer dengan sebutan “ REBO KASAN “, yaitu ritual yang dilaksanakan sekali dalam satu tahun setiap hari Rabu akhir pada bulan Shofar, yaitu bulan kedua dari penanggalan Hijriyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Respon yang diberikan pada tradisi ini juga terdapat <em>variasi (khilaf)</em> diantara tokoh maupun kelompok masyarakat. Mereka yang beraliansi kepaham Wahabi dengan slogan pembersihan islam dari segala pengaruh tradisi dan budaya yang mereka anggap melanggar <span id="more-267"></span>ajaran, sudah pasti menolak keras semua bentuk ritual rebo Kasan, karena jelas tidak mungkin di masyarakat arab, terlebih pada zaman Nabi ada istilah Rebo Kasan. Dalam penolakanya kelompok ini selalu membawa yel-yel dan atribut kefahaman mereka dari bendera bid’ah, syirik, khurafat dan semacamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara kelompok yang lain ada yang cenderung menerima tanpa telaah mendalam atas segala bentuk tradisi, khususnya masyarakat awam yang telah melebur dalam ritual agama seperti halnya Rebo Kasan, Sepuluh Suro dan lain sebagainya. Upaya-upaya pembenaranpun dilakukan dengan berbagai cara dari yang konfensional dengan menggunakan dogma agama sampai argumen-argumen yang terkadang sulit dipahami oleh masyarakat awam. Dalam hal ini kelompok islam kejawen ada didalam dan diluar keduanya. Adapula sekelompok yang mencoba mendudukkan persoalan pada porsinya, Karena tidak mungkin semua tradisi itu bid’ah namun tidak pula semua tradisi dibenarkan, disinilah kelompok Ahlussunnah yang tergabung dalam NU.<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>B. </strong><strong>Istilah Rebo Kasan</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Istilah Rebo Kasan sendiri terjadi selisih pendapat. Sebagian mengasumsikan kata kasan merupakan penggalan dari kata <em>Pungkasan</em> yang berarti akhir dengan mambuang suku kata depan menjadi <em>kasan</em> Teori  ini lebih mudah dimengerti. sebab Rebo Kasan adalah hari rabu yang terakhir dari bulan Sapar atau Shofar, bulan kedua dari penanggalan hijriyyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian yang lain memahami kata Kasan merupakan penggalan dari kata <em>Wekasan</em> yang dalam Bahasa Indonesia mempunyai arti <em>Pesanan</em>, Berangkat dari teori ini istilah  Rebo Kasan berarti hari Rebo yang spesial tidak seperti hari-hari Rabo yang lain.  <em>Seperti barang pesanan yang dibikin secara husus dan tidak dijual kepada semua orang</em>. Kesimpulan ini bisa dipahami oleh karena Rebo Kasan memang hanya terjadi sekali dalam setahun dimana para sesepuh <em>manti–manti</em> (wekas) agar hati-hati pada hari itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain kedua versi tersebut ada satu lagi yang mengasumsikan kata kasan dari kata  bahasa arab <em>hasan</em> yang berarti baik. Kata kasan adalah kata yang utuh bukan penggalan dari kata lain. Walaupun  penalaranya agak sedikit rumit akan tetapi tampak paling mendekati benar karena asumsi yang dipakai keutuhan kalimatnya bukan penggalan dari kalimat lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali kata <em>kasan</em> yang berarti baik sengaja dibubuhkan untuk memberi sugesti pada umat atau masyarakat agar tidak terlalu cemas dengan gambaran yang ada pada hari Rebo Kasan tersebut. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>C. </strong><strong>Asal Mula Ritual Rebo Kasan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Disebutkan dalam banyak sumber dari referensi Islam Klasik bahwa salah seorang <em>Waliyulloh</em> yang telah mencapai makom <em>kasyaf </em>(mendapatkan ilmu tentang sesuatu yang sulit dimengerti orang lain seperti hal–hal gaib) mengatakan bahwa dalam setiap tahun Alloh SWT menurunkan bala’ sebanyak 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam dalam satu malam. Malam itu bertepatan setiap malam Rebo akhir dari bulan Shofar.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu Wali tersebut memberi nasahat mengajak pada umat untuk ber<em>taqorrub</em> pada Alloh seraya meminta agar dijauhkan dari semua bala’ yang diturunkan pada hari itu. Lebih jauh beliau memberi tuntunan tatacara <em>bertaqorrub dengan rangkaian do&#8217;a-do&#8217;a</em> yang dalam istilah jawa lebih dikenal sebagai do’a tolak – bala. pada intinya rangakian doa itu diberikan oleh para wali-wali Alloh sebagai upaya memohon kepada Alloh untuk diberikan keselamatan dan di jauhkan dari semua macam bala yang diturunkan pada hari itu. Tata cara dan bentuk do’a yang diberikanpun berbeda – beda dari satu guru keguru yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah asal muasal ritual Rebo Kasan yang mengakar dan di lakukan oleh masyarakat dari generasi ke generasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>D. </strong><strong>Bentuk Ritual</strong></p>
<p style="text-align: justify;">bentuk ritual rebo kasan yang banyak  dilakukan meliputi empat macam</p>
<p style="text-align: justify;">sholat yang populer di masyarakat dengan sebutan sholat tolak bala atau sholat rebo kasan, doa kemudian minum air jimat dan yang keempat selamatan. Berikut ini kupasan keempat macam ritual tersebut akan teteapi oleh karena pembahasan sholat cukup panjang maka kupasannya kami posisikan paling belakang.<strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>-      Do&#8217;a</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Diantara do&#8217;a-do&#8217;a  yang banyak dibaca pada hari Rebu Kasan adalah rangkaian do&#8217;a seperti yang terdapat pada kitab Kanzun Najah karya Abdul Hamid Kudus halaman 26, dan pada kitab-kitab yang lain. Meskipun silsilah do&#8217;a itu sendiri disusun oleh siapa sejauh ini belum dapat ditelusuri dengan pasti, namun demikian melihat lafal dan makna dari do&#8217;a itu sendiri tidak ada yang pelu diperdebatkan panjang. Persolannya kembali pada persoalan klasik seputar hukum tawassul dan Do&#8217;a <em>Bighoiril Ma&#8217;tsur</em> yang kajianya sudah banyak dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">-      <strong>Minum air azimat<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Disebutkan dalam kitab <em>Nihayatuz Zain</em> karya imam Nawawi Aljawi Albantani yang merupakan syarah atau penjelasan dari kitab matan Fiqih <em>Qurrotul &#8216;Ain</em>, barang  siapa yang menulis ayat salamah tujuh yaitu tujuh ayat Alqur&#8217;an yang diawali dengan lafal Salaamun : &#8220;<em>Salaamun Qoulammirrobirrohim, Salaamun &#8216;ala nuhin fil&#8217;alamin, Salaamun &#8216;ala ibrohiim, Salaamun &#8216;ala musa wa harun, Salaamun &#8216;ala ilyasin, Salaamun &#8216;alaikum thibtum fadkhuluha kholidin,  Salaamun hiya hatta mathla&#8217;il fajr.&#8221;</em> Kemudian tulisan tersebut dilebur/direndam dengan air, maka barang siapa yang mau meminum air tersebut akan diselamatkan dari baliyyah/bala’ yang diturunkan.</p>
<p style="text-align: justify;">-      <strong>Selamatan<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada sebagian masyarakat disamping ritual-ritual diatas dilakukan pula selamatan dengan membagikan nasi pada tetangga dan saudara. Disebagian daerah nasi itu dibawa ke suatu tempat seperti Masjid atau Musholla untuk dinikmati bersama-sama.  Mereka yang tidak mampu membuat nasi cukup membawa jajan  atau minuman. Semua itu dilakukan sebagai bentuk taqorrub dengan mengeluarakan sebagian haknya/shodaqoh didasari harapan diselamatkan dari segala bentuk bala&#8217; dengan sodaqohnya. Sesuai dengan tuntunan yang artinya bahwa<em> Sodaqoh itu dapat menangkal turunya  bala’.</em></p>
<p style="text-align: justify;">-      <strong>Sholat Sunnah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya sholat yang husus untuk Rabu Kasan atau sholat tolak bala tidak ada dalam literatur islam, seperti halnya sholat <em>roghoib</em> dan semacamnya. Hal ini berbeda dengan ritual-ritual yang lain seperti do&#8217;a, dzikir dan lain sebagainya dimana pada selain sholat bisa diakomodir bentuk-bentuk baru yang belum dikenal sebelumnya. Sedang sholat segala sesuatunya sudah ditentukan dari mulai tatacara sholat sampai jenis-jenis atau macam-macam sholat. Dengan kata lain dalam sholat tidak ada ruang inovasi baru baik dalam tatacara maupun macam-macamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu bagaimana dengan sholat sunnah yang dilakukan secara khusus setiap Rabu Kasan?,</p>
<p style="text-align: justify;">Dari uraian di atas kita bisa menyimpulkan bahwa sholat yang dilakukan tidak mungkin bentuk sholat baru apapun namanya, akan tetapi mesti <em>include</em> dalam salah satu bentuk sholat yang sudah ditentukan dan dikenal pada zaman Rosululloh SAW. <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Cara melakukan sholat</strong></em><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu macam sholat yang sudah dikenal adalah sholat sunnah mutlak. Yaitu sholat sunnah yang tidak dibatasi oleh waktu, sebab musabab maupun bilangan rokaat. Sholat sunnah mutlak inilah yang paling mungkin untuk  dilakukan pada hari Rabu Kasan dalam rangka <em>taqorrub</em> guna  mengharap keselamatan dari Alloh SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Disebutkan dalam kitab<em> Kanzun Najah</em> hal 25\26 : barang siapa yang melakukan sholat empat rokaat dimana setiap rokaatnya membaca surat</p>
<p style="text-align: justify;">-      Alfatihah          X 1<br />
-      Al Kautsar       X 17<br />
-      Al Ikhlas           X 5<br />
-      Al Falaq            X 1<br />
-      An Nas              X 1</p>
<p style="text-align: justify;">dilanjutkan dengan membaca doa seperti diatas maka akan diselamatkan dari bala&#8217; yang Alloh turunkan pada hari itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>E &#8211; Tinjauan Hukum</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana hukum melaksanakan tradisi Rebo kasan?, Hukum melaksanakan tradisi Rebo Kasan sebagaimana rangkaian diatas adalah sebagai mana melaksanakan tradisi-tradisi  lainnya. Artinya dari sudut pandang kegiatan itu sebagai tradisi maka pelaksanaanya tidak bisa dikatakan harom ataupun sunnah apalagi wajib (lihat mafahim, sayyid Muhmmad Almaliki hal 339-341).</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana teknis pelaksanakan <em>ceremoni</em>nya dari tradisi itu sendiri yang menentukan status hukumnya. Sesuai dengan diskripsi di atas maka <em>ceremony</em> yang umum dilakukan ada tiga macam: diawali dengan sholat sunnah dan dilanjutkan do&#8217;a kemudian meminum air jimat, dan sebagian dilengkapi dengan selamatan.  Dalam pembahasan sholat sunnah sudah dipaparkan bahwa sholat sunnah yang memilki sifat fleksibelitas adalah sholat sunnah mutlak. Maka bilamana dalam melakukan sholat tersebut dengan cara sunnah mutlak maka hukumnya boleh dan bisa mendapatkan pahala dari sisi melaksanakan sholat sunnahnya. Sedang bilamana dalam melakukan sholat sunnah tersebut niatnya sunnah rebo kasan atau sholat tolak bala maka hukumnya tidak sah dan berdosa karena telah membuat syariat baru yang tidak dikenal pada masa Rosululloh SAW.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun pembacaan do&#8217;a tertentu pada malam atau hari Rabu Kasan maka itu adalah bagian dari pelaksanaan perintah Alloh SWT yang artinya : ”<em>Berdo&#8217;alah kalian padaku maka aku kabulkan do&#8217;amu”</em>. Tidak ada larangan do&#8217;a yang dilakukan pada waktu atau momentum tertentu, kapanpun dan dimanapun kita berdo&#8217;a Alloh SWT mendengar dan mengkabulkan. Lebih jauh Rosululloh SAW.<strong> </strong>bersabda<strong> </strong> yang artinya : ”<em>Do&#8217;a itu adalah inti dari ibadah”</em>. mengacu dari hadist tersebut bahwa doa bagian dari ibadah maka barang tentu orang yang melakukannya bisa mendapat pahala dari sisi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitupula dengan ritual meminum air jimat. Sebagai seorang yang beriman barang tentu meyakini bahwa tidak satupun bisa mendatangkan manfaat dan madlorot kecuali Alloh SWT. Dan dalam kapasitas sebagai seorang hamba orang yang beriman mesti melakukan upaya/ihktiar untuk mendapatkan manfaat dan terhindar dari madlorot. Keberadaan air jimat adalah dalam kapasitas ikhtiar, sama dengan keberadaan nasi maupun obat-obatan sebagai ikhtiar untuk mendapatkan kenyang dan kesembuhan. Ikhtiar dengan menggunakan air jimat ini pernah pula dilakukan para shohabat pada masa hidupnya  Rosululloh SAW.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan selamatan dengan membagikan makanan ataupun minuman pada orang lain merupakan suatu perbuatan positif yang sangat dianjurkan oleh Alloh dalam banyak ayat, karena diakui atau tidak tradisi selamatan yang banyak dilakukan oleh masyarakat merupakan wujud dari rasa kepedulian dan kebersamaan yang sangat dianjurkan oleh agama kapanpun dan dimanapun tanpa terkecuali hari Rebo kasan ataupun hari-hari lainnya. Teramat banyak ayat-ayat Alqur&#8217;an yang menerangkan tuntunan itu sehingga tidak perlu kami paparkan disini.</p>
<p style="text-align: justify;">-  <strong>Termasuk <em>Bid&#8217;ah </em>atau bukan?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan ini mesti dijabarkan dengan panjang terkait dengan pembahasan  bid&#8217;ah dan sunnah. Tentu saja kajianya yang panjang tidak relevan untuk dipaparkan disini. Karenanya, <em>insya Alloh</em> nanti akan dikupas pada edisi berikutnya. kesimpulanya bahwa tradisi Rebo kasan tidak termasuk bid&#8217;ah yang <em>sayyi&#8217;ah/negatif</em> yang tidak boleh dilakukan. Akan tetapi sekiranya itu merupakan bid&#8217;ah maka bid&#8217;ah yang <em>hasanah/ positif</em> yang boleh dan baik dilakukan sekiranya sesuai dengan tuntunan-tuntunan sebagaimana yang terdiskripsikan di sini. Keberadaan bid&#8217;ah hasanah seperti ini pernah disampaikan khalifah Umar bin Khotob ketika menyelenggarakan sholat sunnah tarowih dua puluh rokaat dengan berjamaah : <em>&#8220;sebaik &#8211; baik bid&#8217;ah adalah menyelenggarakan tarawih duapuluh rokaat dengan berjama&#8217;ah&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>F. </strong><strong>Kesimpulan </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tradisi Rebo kasan adalah bukan bagian dari ajaran agama atau ibadah. Akan tetapi, merupakan salah satu dari tradisi yang positif. Dimana tradisi itu termotifasi oleh semangat <em>husnudz dzon</em> dan keyakinan yang kuat kepada para <em>auliya&#8217;,</em> sebagaimana disebutkan dalam Al-qur&#8217;an surat Yunus:62 yang artinya : ”<em>Ingatlah sesungguhnya para wali Alloh tiada merasakan takut tiada pula merasakan sedih”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Segala bentuk ritual yang dilakukan pada Rabu kasan adalah menjadi bagian dari tradisi seperti halnya ulang tahun, tujuh belas agustus, Maulid Nabi, Isro&#8217; Mi&#8217;roj dan sebagainya, dimana tinjauan hukumnya sangat bergantung pada teknis pelaksanaan itu sendiri. Adakah pelaksanaan itu sesuai dengan ketentuan syariat ataukah terjadi penyimpangan maka status hukumya mengikuti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada mereka yang meyakini kebenaran apa yang disampaikan oleh para wali maka hendaknya melakukan ritual-ritual Rebo kasan yang mampu dilaksanakan tanpa harus terkecoh dengan slogan bid&#8217;ah maupun syirik karena tidak satupun ajaran dari para wali menyimpang dari ajaran Alloh SWT. Begitupula yang tidak meyakini untuk tidak mudah melakukan tuduhan bid&#8217;ah atupun syirik pada mereka yang mengamalkan tuntunan Rebo kasan ini. Semoga kita semuanya senantiasa dalam bimbingan hidayah dan rahmatNya.<br />
<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Penulis adalah Khodimul Ma&#8217;had Almubarok Medono kota Pekalongan</em></p>
<p>oby.uweis{at}gmail{dot}com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubarok.org/tradisi-rabu-kasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesantren Minim Karya TuliS</title>
		<link>http://almubarok.org/pesantren-minim-karya-tulis/</link>
		<comments>http://almubarok.org/pesantren-minim-karya-tulis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 08:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AL Mubarok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[minim]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[santri]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubarok.org/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan sastra dan budaya baca tulis di lembaga pendidikan pesantren terkesan jalan di tempat, bahkan bisa dikatakan mandek. Akibatnya, hingga saat ini tidak banyak karya satra atau karya tulis yang bisa dihasilkan dari kalangan pondok pesantren.
&#8220;Pesantren saat ini memang sepi karya tulis. Hal itu terjadi karena kurang adanya keteladanan. Kiainya saja malas
mengarang kitab atau terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 8pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', 'Bitstream Charter', Times, serif; font-size: 13px;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-261" title="santri menulis" src="http://almubarok.org/wp-content/uploads/2009/12/image-for-training-advokasi-cc1-300x225-150x150.jpg" alt="santri menulis" width="150" height="150" />Perkembangan sastra dan budaya baca tulis di lembaga pendidikan pesantren terkesan jalan di tempat, bahkan bisa dikatakan mandek. Akibatnya, hingga saat ini tidak banyak karya satra atau karya tulis yang bisa dihasilkan dari kalangan pondok pesantren.</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pesantren saat ini memang sepi karya tulis. Hal itu terjadi karena kurang adanya keteladanan. Kiainya saja malas<br />
mengarang kitab atau terlalu sibuk kegitan diluar, bagaimana santrinya bisa nulis,&#8221; ujar budayawan Ahmad Thohari saat berbicara dalam acara seminar &#8216;Sastra dalam Budaya Pesantren&#8217; di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Rabu (9/12).<span id="more-260"></span></p>
<p>Untuk itu, Ahmad Thohari mengajak para mahasiswa UIN Malang untuk menghidupkan sastra pesantren. Karena menurut pendapatnya sastra pesantren ini seolah sepi. kondisi itu, sambung dia, diperparah dengan makin tengelamnya budaya kritis di kalangan para santri.</p>
<p>Menurut penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk ini, ruang untuk kekritisan di pesantren saat ini sangat kecil. Padahal seharusnya muncul sastrawan–sastrawan ‘nakal’ yang bisa lahir dari pesantren. Seperti dirinya, sastrawan nakal tapi bertanggung jawab dunia dan akhirat.</p>
<p>Pria kelahiran Banyumas ini berharap para santri bisa menyaingi dirinya. Karena menurutnya, menulis itu bukanlah pekerjaan yang istimewa. Semua orang bisa memproses diri menjadi penulis. Namun, tentu saja sebuah proses tidak bisa berjalan mulus, pasti akan menemui kegagalan.</p>
<p>Ibarat orang naik sepeda, kata dia, maka orang itu harus pernah jatuh untuk bisa bersepeda dengan baik. Yang terpenting dalam menulis adalah bahwa seorang penulis harus memiliki lebih banyak dibandingkan pembacanya, karena menulis itu memberi. Ibarat strom, kata dia, maka penulis harus punya tegangan yang lebih tinggi.</p>
<p>&#8220;Agar voltase penulis lebih tinggi, syaratnya harus banyak membaca dan mencoba,” paparnya sepeeti dilansir <a href="http://www.nu.or.id" target="_blank">NU</a><em><a href="http://www.nu.or.id" target="_blank"> Online</a></em>. (BB/fzn)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubarok.org/pesantren-minim-karya-tulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>POSYANKES (Pos Pelayanan Kesehatan)</title>
		<link>http://almubarok.org/posyankes-pos-pelayanan-kesehatan/</link>
		<comments>http://almubarok.org/posyankes-pos-pelayanan-kesehatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 03:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AL Mubarok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Internal]]></category>
		<category><![CDATA[gratis]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pos]]></category>
		<category><![CDATA[Posyankes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubarok.org/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Pos Pelayanan Kesehatan Al Mubarok (Posyankes) dibuka gratis untuk 10 orang pendaftar pertama bagi masyarakat sekitar kelurahan Medono dan Kota Pekalongan pada umumnya.
Posyankes itu sendiri didirikan Ponpes Al Mubarok melalui kerja sama Dinas Kesehatan (Dinkes) Pekalongan, dan beroperasi sejak tanggal 6 Desember 2009 lalu.
Pengasuh Ponpes Al Mubarok, mengatakan, untuk meningkatkan kesehatan bagi warga sekitar Pesantren, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://almubarok.org/posyankes"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-256" title="dokter santri" src="http://almubarok.org/wp-content/uploads/2009/12/dokter-santri-150x150.jpg" alt="dokter santri" width="150" height="150" /></a>Pos Pelayanan Kesehatan Al Mubarok (Posyankes) dibuka gratis untuk 10 orang pendaftar pertama bagi masyarakat sekitar kelurahan Medono dan Kota Pekalongan pada umumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Posyankes itu sendiri didirikan Ponpes Al Mubarok melalui kerja sama Dinas Kesehatan (Dinkes) Pekalongan, dan beroperasi sejak tanggal 6 Desember 2009 lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengasuh Ponpes Al Mubarok, mengatakan, untuk meningkatkan kesehatan bagi warga sekitar Pesantren, Kelurahan medono, serta masyarakat kota Pekalongan pada umumnya Posyankes ini didirikan sekaligus sebagai peranan Pesantren dalam ikut menyehatkan masyarakat .<span id="more-255"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk operasional pertama Posyankes ini akan di buka pada hari Selasa dan Jum’a, selama bulan Desember ini diberikan gratis kepada 10 orang pendaftar pertama bagi calon pasien, dan Rp. 10.000 untuk yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, tujuan dibukanya fasilitas Posyankes tersebut, dr Shofa mengatakan, selain untuk mendukung program pemerintah Indonesia Sehat 2010 juga untuk mendekatkan budaya hidup sehat bagi masyarakat.(elm/fzn)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubarok.org/posyankes-pos-pelayanan-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Thoriqoh</title>
		<link>http://almubarok.org/mengenal-thoriqoh/</link>
		<comments>http://almubarok.org/mengenal-thoriqoh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 13:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AL Mubarok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel dari Pengasuh]]></category>
		<category><![CDATA[habib luthfi]]></category>
		<category><![CDATA[mnegenal]]></category>
		<category><![CDATA[mu'tabaroh]]></category>
		<category><![CDATA[thoriqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almubarok.org/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Habib Lutfi: &#8220;Thoriqoh bukan hanya dzikir gelang-geleng kepala&#8221;
Masih banyak masyarakat kita yang belum memahami Thoriqoh, baik yang sudah masuk dalam arti telah mengambil dari salah satu macam aliran thoriqoh terlebih yang belum. Hal itu dipahami betul Oleh Rois &#8216;am Idaroh Aliyah jamiyyah ahlit thoriqoh Al-Mu&#8217;tabaroh Annahdliyyah, Maulana Al-Habib Muhammad luthfi bin Yahya. Kebanyakan dari mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://habibluthfiyahya.net">Habib Lutfi: &#8220;Thoriqoh bukan hanya dzikir gelang-geleng kepala&#8221;</a><br />
Masih banyak masyarakat kita yang belum memahami Thoriqoh, baik yang sudah masuk dalam arti telah mengambil dari salah satu macam aliran thoriqoh terlebih yang belum. Hal itu dipahami betul Oleh Rois &#8216;am Idaroh Aliyah jamiyyah ahlit thoriqoh Al-Mu&#8217;tabaroh Annahdliyyah, Maulana Al-Habib Muhammad luthfi bin Yahya. Kebanyakan dari mereka memahami thoriqoh hanya sebatas dzikir dan gelang-geleng kepala tanpa memahami ma&#8217;na dan maksud dari thoriqoh. Sehingga mereka mempersepsikan thoriqoh hanya sebagai sebuah rangkaian wirid tertentu yang diterima melalui cara tertentu. Seolah toriqoh jauh dari korelasinya dengan pengamalan syari&#8217;ah terlebih korelasinya dengan aspek sosial.<br />
Sementara sebagian memahami thoriqoh sebangun dengan tashawuf yang sebagaimana digambarkan oleh Aljunaidy maupun Albusthomy dan Al-Ghozaly. Kritik dan cemooh dari kelompok ini terhadap pengamal thoriqoh sering kali nyaring terdengar. Ini disebabkan oleh karena pemahaman mereka bahwa thoriqoh adalah tashowuf kemudian mereka kaitkan dengan kata-kata Aljunaidy: Thoriqoh kita ini hanya bisa dimasuki (baca: diikuti) oleh orang-orang yang sudah luas pemahaman agamanya (tabahhur fis syariah)<span id="more-202"></span>Menanggapi dua pemahaman yang sama klirunya ini beliau menyampaikan: &#8220;thoriqoh adalah buah dari pada syariah, dan buah dari thoriqoh adalah tasawwuf&#8221; lebih jauh beliau menegaskan antara Syariah dan Thoriqoh tidak bisa dipisahkan. &#8220;Seorang pengamal thoriqoh harus mau ngaji tauhid sehingga tahu mana-man<a href="http://www.habibluthfiyahya.net"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-229" title="Baiat Thoriqoh" src="http://almubarok.org/wp-content/uploads/2009/06/dsc03719-copy-150x150.jpg" alt="Baiat Thoriqoh" width="209" height="214" /></a>a yang wajib, mustahil dan jaiz juga Safinah agar tahu tata cara wudhu sholat dsb dengan kiai di kampung, tidak harus dengan guru thoriqohnya atau yang sama macam thoriqohnya.&#8221;<br />
Dari sisi syari&#8217;ah seperti wudhu dan mandi membersihkan tubuh sudah biasa dan rutin kita lakukan. Bagaimana dengan membersihkan hati?</p>
<p style="text-align: justify;">padahal dari hatilah munculnya penyakit-penyakit pribadi maupun penyakit sosial seperti hasud (iri / kecemburuan) , sombong, pamrih dan lain sebagainya. Kapan kita membersihkan dari itu? kapan kita mengobati dari penyakit-penyakit tersebut?<br />
Sudah tentu pengobatan penyakit tidak akan berhasil tanpa dimengerti akar sumbernya. Nah sumber dari penyakit-penyakit itu adalah ghoflah dari Alloh SWT. Disinilah fungsi dan peran thoriqoh. Dan ghoflah yang paling berbahaya adalah saat sakaratil maut. Karena pada saat itu kebiasaan perilaku dan ucapan akan sangat berperan, kalau biasa mengucap kalimah  ????? ??? ???? maka pada saat sakarat kalimah itu akan menghiasi bibir dan hati kita. ini salah satu sasaran thoriqoh sehingga mengharuskan dzikir dalam setiap harinya agar kita tidak terus menerus ghoflah. Dengan hilangnya ghoflah maka akan hilang pula penyakit-penyakit hati dari diri kita.<br />
Haruskah persiapan dan latihan menghadapi sekarat menunggu tabahhur? Begitu pula dengan proses belajar menepis ghoflah yang juga merupakan bagian keharusan seorang hamba sebagaimana sholat puasa dan lain sebagainya?<br />
Pada tingkat lebih tinggi bagaimana dengan dzikir itu kita bisa meningkatkan semangat rasa penghambaan kita pada Alloh SWT. sebagai aplikasi dari maqomah muroqobah dan musyahadah sebagaimana dijabarkan dalam ilmu tasawuf. Di sinilah kita menemukan korelasi tasawuf dengan thoriqoh dimana tasawuf  merupakan ending  atau buah  dari pada thoriqoh.<br />
Ulasan itu disampaikan beliau pada kesempatan pengambilan baiat Thoriqoh Syadziliyah untuk yang pertama kali dilaksanakan di Pon-Pes Al-Mubarok Medono Pekalongan, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi dan Khoul mBah Kiai Abd Lathif serta sesepuh Medono Pekalongan yang dilaksnakan pada hari jumat, 24 April 2009 M. tercatat sebagai peserta baiat ± 50 orang terdiri dari alumi, wali santri dan masyarakat baik dari dalam kota maupun dari luar. Semoga Alloh membukakan jalan wushul dan  ma&#8217;rifat kepadaNya. Amin (Oby Oewais)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almubarok.org/mengenal-thoriqoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
